Tuesday, April 19, 2011

Syukur & Sabar


Ketikan paragraph-paragraf sederhana ini sungguh kutujukan terutama untuk muhasabah diriku sendiri. Selain itu, ini juga dapat menjadi sarana ‘watawa shoubil haq watawa shoubis shobr’ bagi saudara/i ku dimanapun berada dalam naungan Kuasa Allah SWT.

Sungguh, kehidupan di dunia mau tidak mau harus di isi dengan aktifitas bersyukur dan bersabar dijalan Allah. Karena begitu banyak ni’mat diperoleh dan cobaan yang dihadapi. .
"Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur" (Al A’raaf: 10)

'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'." (Q.s. Ibrahim: 7)

Ibnul Qayyim rahimahullahu menjelaskan: “Syukur itu bisa dilakukan oleh hati dgn tunduk dan kepasrahan oleh lisan dengan mengakui ni’mat tersebut dan oleh anggota badan dengan ketaatan dan penerimaan.”

Sungguh, tidaklah mudah untuk mampu mensyukuri setiap nikmat Allah, karena itu kita perlu berdo'a kepada Allah: (Allahumma a-inni ala Zikrika wa shukrika wa husni ibadatik: (O Allah! Help me to remember you, to thank you, and to worship you in the best of manners)

Dari Abu Yahya, yaitu Shuhaib bin Sinan Shallallahu 'alaihi wa sallam , katanya: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Amat mengherankan sekali keadaan orang mu'min itu, sesungguhnya semua keadaannya itu adalah merupakan kebaikan baginya dan kebaikan yang sedemikian itu tidak akan ada lagi seseorangpun melainkan hanya untuk orang mu'min itu belaka, yaitu apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, iapun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya, sedang apabila ia ditimpa oleh kesukaran - yakni yang merupakan bencana - iapun bersabar dan hal inipun adalah merupakan kebaikan baginya." (Riwayat Muslim)

Iman terbagi dua, separo dalam sabar dan separo dalam syukur. (HR. Al-Baihaqi)
Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak. (Khalifah Ali bin Abu Tholib RA.)

Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Madarijus Salikin (2/156) berkata: “Sabar ada tiga macam yaitu ; 1.Sabar dalam ketaatan kepada Allah SWT
2.Sabar dalam menahan diri dari bermaksiat kepada Allah SWT
3.Sabar dalam menghadapi ujian.

Sabar dalam ketaatan kepada Allah SWT dapat di ukur dengan seberapa konsisten kita mengamalkan perintah-perintah Allah SWT. Sabar dalam taat kepada Allah SWT tidaklah gampang. Ada kalanya kadar ke imanan diri kita menurun. Jika iman kita tidak segera di re-fresh, maka kita akan terseret jauh dari sang Khalik dan syaithon pun akan menguasai diri kita. Turun dan naiknya keimanan kita tentu berbanding lurus dengan kaidah :keimanan bertambah dengan meningkatnya ketaatan kepada Allah, dan kadar keimanan akan turun dengan semakin berkurangnya ketaatan kepada Allah SWT (kurangnya kemampuan menahan diri dari bermaksiat kepada Allah SWT).

Sabar dalam menghadapi Ujian juga tidak kalah beratnya dengan dua poin sebelumnya. Ujian dari Allah SWT adalah suatu yang niscaya, sesuai dengan firmanNya:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan; ‘Kami telah beriman’, sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yg sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan, sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Surah Al-Ankabut: 2-3).

Ujian bisa berupa interaksi sesama hamba Allah: ujian saat berinteraksi dengan orang tua, saudara/i, teman, atasan ataupun bawahan dalam kerja, suami, istri, keponakan, paman, dan sederet hamba-hamba Allah SWT yang lainnya. Ujian bisa datang dari kekayaan dan kemiskinan materi, dari penguasaan ilmu (terjebak kesombongan, ria), ujian kecantikan (ketampanan) rupa/ketidakcantikan(ketidaktampanan) rupa serta berbagai ujian lainnya yang akan terus datang silih berganti.

Semoga kita dikuatkan oleh Allah SWT untuk selalu untuk tetap bertahan dalam kesyukuran dan kesabaran dijalanNya. Hingga saat nya kita dipanggil oleh Allah: ‘Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepadaNya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (Ali Imran: 102). Sungguh, jangankan satu minggu kedepan; dalam lima, empat, tiga, dua bahkan satu detik kedepan kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri kita.

0 comments: