Tuesday, April 19, 2011

Syukur & Sabar


Ketikan paragraph-paragraf sederhana ini sungguh kutujukan terutama untuk muhasabah diriku sendiri. Selain itu, ini juga dapat menjadi sarana ‘watawa shoubil haq watawa shoubis shobr’ bagi saudara/i ku dimanapun berada dalam naungan Kuasa Allah SWT.

Sungguh, kehidupan di dunia mau tidak mau harus di isi dengan aktifitas bersyukur dan bersabar dijalan Allah. Karena begitu banyak ni’mat diperoleh dan cobaan yang dihadapi. .
"Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur" (Al A’raaf: 10)

'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'." (Q.s. Ibrahim: 7)

Ibnul Qayyim rahimahullahu menjelaskan: “Syukur itu bisa dilakukan oleh hati dgn tunduk dan kepasrahan oleh lisan dengan mengakui ni’mat tersebut dan oleh anggota badan dengan ketaatan dan penerimaan.”

Sungguh, tidaklah mudah untuk mampu mensyukuri setiap nikmat Allah, karena itu kita perlu berdo'a kepada Allah: (Allahumma a-inni ala Zikrika wa shukrika wa husni ibadatik: (O Allah! Help me to remember you, to thank you, and to worship you in the best of manners)

Dari Abu Yahya, yaitu Shuhaib bin Sinan Shallallahu 'alaihi wa sallam , katanya: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Amat mengherankan sekali keadaan orang mu'min itu, sesungguhnya semua keadaannya itu adalah merupakan kebaikan baginya dan kebaikan yang sedemikian itu tidak akan ada lagi seseorangpun melainkan hanya untuk orang mu'min itu belaka, yaitu apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, iapun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya, sedang apabila ia ditimpa oleh kesukaran - yakni yang merupakan bencana - iapun bersabar dan hal inipun adalah merupakan kebaikan baginya." (Riwayat Muslim)

Iman terbagi dua, separo dalam sabar dan separo dalam syukur. (HR. Al-Baihaqi)
Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak. (Khalifah Ali bin Abu Tholib RA.)

Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Madarijus Salikin (2/156) berkata: “Sabar ada tiga macam yaitu ; 1.Sabar dalam ketaatan kepada Allah SWT
2.Sabar dalam menahan diri dari bermaksiat kepada Allah SWT
3.Sabar dalam menghadapi ujian.

Sabar dalam ketaatan kepada Allah SWT dapat di ukur dengan seberapa konsisten kita mengamalkan perintah-perintah Allah SWT. Sabar dalam taat kepada Allah SWT tidaklah gampang. Ada kalanya kadar ke imanan diri kita menurun. Jika iman kita tidak segera di re-fresh, maka kita akan terseret jauh dari sang Khalik dan syaithon pun akan menguasai diri kita. Turun dan naiknya keimanan kita tentu berbanding lurus dengan kaidah :keimanan bertambah dengan meningkatnya ketaatan kepada Allah, dan kadar keimanan akan turun dengan semakin berkurangnya ketaatan kepada Allah SWT (kurangnya kemampuan menahan diri dari bermaksiat kepada Allah SWT).

Sabar dalam menghadapi Ujian juga tidak kalah beratnya dengan dua poin sebelumnya. Ujian dari Allah SWT adalah suatu yang niscaya, sesuai dengan firmanNya:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan; ‘Kami telah beriman’, sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yg sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan, sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Surah Al-Ankabut: 2-3).

Ujian bisa berupa interaksi sesama hamba Allah: ujian saat berinteraksi dengan orang tua, saudara/i, teman, atasan ataupun bawahan dalam kerja, suami, istri, keponakan, paman, dan sederet hamba-hamba Allah SWT yang lainnya. Ujian bisa datang dari kekayaan dan kemiskinan materi, dari penguasaan ilmu (terjebak kesombongan, ria), ujian kecantikan (ketampanan) rupa/ketidakcantikan(ketidaktampanan) rupa serta berbagai ujian lainnya yang akan terus datang silih berganti.

Semoga kita dikuatkan oleh Allah SWT untuk selalu untuk tetap bertahan dalam kesyukuran dan kesabaran dijalanNya. Hingga saat nya kita dipanggil oleh Allah: ‘Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepadaNya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (Ali Imran: 102). Sungguh, jangankan satu minggu kedepan; dalam lima, empat, tiga, dua bahkan satu detik kedepan kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri kita.

Sabar, Syukur, Maaf, Istighfar..


Rasulullah SAW bersabda : "Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah." (HR. Al-Baihaqi)

Thursday, February 25, 2010

Ini Hari Jum'at..

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٩)

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [QS: Al-Jumu'ah:9]


Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i)

"Sebaik-baik hari adalah hari Jum'at, pada hari itu Nabi Adam 'Alaihi Wasallam diciptakan, pada hari itu dia dimasukkan ke surga, pada hari itu dia dikeluarkan dari surga, dan hari qiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jum'at. (HR. Muslim no. 854, dan yang lainnya).

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya.” [Muttafaqun Alaih]

“Di hari Jumat itu terdapat satu waktu yang jika seorang Muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.’ Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu.” [HR.Bukhari dan Muslim]

“Hendaklah kaum-kaum itu berhenti dari meninggalkan shalat Jumat. Atau (jika tidak) Allah pasti akan mengunci hati mereka, kemudian mereka pasti menjadi orang-orang yang lalai.” [Muslim]. Dalam riwayat lain Rasulullah menyebutkan, “Shalat Jumat adalah hak yang diwajibkan kepada setiap Muslim kecuali empat orang; budak atau wanita, atau anak kecil, atau orang sakit.” [Abu Daud]

Gigi, Makan(an), & Bunda=Graduation ☺ : Part I

(Part 1)

Sebelum kehilangan dua geraham kanan, aku termasuk orang yang ‘sangat’ kurang perhatian terhadap gigi. Namun, tahun 2006 karena sakit gigi yang akut dan lubang yang sangat besar, maka aku harus merelakan ‘kepergian dua geraham kanan’ di tangan seorang dokter gigi. Hingga pertengahan 2008, aku cukup perhatian dengan gigi, setidaknya tiga kali sehari harus digosok, sebelum 2006 aku pernah menggosok gigi sekali sehari, upssss …,yaitu di pagi hari. Is is is, Gawat!, tapi ‘pernah’ lo, ingat ‘pernah’ bukan berarti tiap hari..he he.. Biasanya aku menggosok gigi dua kali sehari, itu yang kuingat secara sadar, yang yang gak sadar? Allahu’alam…☺

Hari demi hari berlalu. Ternyata benar, seperti kata dokter gigi, tanpa gigi geraham, makan itu tidak akan nikmat. Dari sini, hikmahnya adalah, betapa satu nikmat saja dicabut oleh Allah (nikmat memiliki gigi geraham) memiliki pengaruh yang cukup besar bagiku. Disini, berlakulah ayat Allah di surah Ar-rahman, ‘Fabiayyi’ala irrobbikuma tukazziban’ (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan), yang kalau tidak salah ada 31 (tiga puluh satu) kali dinyatakan oleh Allah SWT.

Jujur, aku termasuk orang yang ‘doyan makan’, tapi tidak juga pilih2. Makanya, ibuku senang masak kalau aku dirumah. Soalnya, masakan apa saja dibuat bunda, insyaAllah lewat dengan dahysat. Bahkan, selama 8 bulan pertama di Canberra, praktis aku makan nasi+lauk (seperti menu di Indonesia), biasanya sekali dalam seminggu saja, yaitu ba’da jum’atan karena ada teman2 dari Indonesia yang jualan masakan Indo atau kalau di undang teman-teman dari Indo yang rata-rata sudah berkeluarga, aku biasanya dihidangin makanan Indo ssstt…☺ (senang euyyy), nah bisa dua kali jumpa nasi dalam seminggu. Selebihnya, apa saja, yang penting kenyang. Kalau teman2ku di Indonesia yang suka makan, dan relatif akrab dengaku, biasanya tidak perlu nanya mau makan kemana kalau ngajak aku makan , cukup ikut saja, nanti juga ‘dilarap’ habis. Apalagi rata2 makanan dan minuman kita ada ‘S’ baca ‘es’ nya, seperti ‘Soto, Miso, Bakso, Mie Sagu, Nasi goreng, Tongseng, Sate, Siomay, Es rumput laut, Es Jeruk, Es Teh, Es Tebak, Es Cendol, hingga S, S, dan S (Semuanya, Siap, Sikat)-Maksudku gak milih-milih, semuanya bisa diterima oleh seleraku, bukan berarti kesemuanya itu dimakan sekaligus, itu namanya dalam bahasa kampungku “Congok atau Buluo” or you say it ‘greedy’.

Sewaktu tinggal dengan teman dari Pakistan, menu makanku persis seperti orang Pakistan: roti Lebanon+curry ayam, briyani, kadang juga makanan India. Sejak tinggal on-campus accommodation, mulai sering makan nasi, at least 4 kali seminggu. Nah, kaitannya dengan gigi, aku merasa selera makanku tidak berkurang, cuma, kurang nyaman karena harus mengandalkan geraham kiri, yang aku yakin ini juga tidak akan bertahan lama jika dipakai terus-menerus tanpa gantian dengan geraham kanan, karena memang sudah tidak ada.

Dugaanku tidak meleset. Tepat tiga minggu menjelang semua tugas essay2 akhir harus di kumpul, bagian tengah, salah satu geraham gigi kiriku keping, sewaktu menggosok gigi. Bukan karena gosokannya terlalu kuat, tapi memang sudah ada tanda-tanda akan serpih beberapa hari sebelumnya. Sontak, aku menghentikan gosokan dan kubuang serpihan tersebut. Kumur-kumur, kemudian kutatap sosok diriku sendiri di depan cermin kamar mandi sambil berucap ‘You are in hot water’ (Kamu dalam masalah). Serpihan-serpihan berikutnya menyusul dihari-hari setelahnya yang membuat lubangnya cukup besar.

Secara psikologis aku sangat terganggu, karena aku sedang mengerjakan draft 3 essay courses (mata kuliah) yang harus kuselesaikan dengan baik jika ingin tamat dan wisuda bulan December ini. Sekarang, tekanan psikologis sudah bertambah dengan tekanan fisik yang sudah kuperkira akan menyusul. Tekanan fisik, yaitu sakit gigiku mulai menjadi-jadi. Aku tidak bisa mengerjakan, essay-essay ini dengan baik, lebih banyak uring-uringan dikamar. Anehnya, jika aku pergi kerja part time atau beraktivitas fisik (biasanya futsal), maka sakit gigiku boleh dikatan hilang. Namun, jika sudah di ToadHall, selesai makan dan duduk ingin menyelesaikan tugas, gigiku mulai berulah. Ya Allah, please help me… Aku tidak boleh menyerah, kata hatiku, whatever it takes, I must graduate!. Ku kontak dokter gigiku di Indonesia, sekedar mengurangi beban psikologis, untuk meyakinkan diri what should be done, walauapun aku sudah menduga apa yang akan disarankannya, ‘see the dentist’, dan benar, si dokter bilang, ‘konsultasi segera Fajri, ke dokter gigi di sana’.

Dokter gigi di Canberra lumayan mahal menurutku, tapi, itu baru dengar2 info dari teman.Ku kontak seorang teman yang pernah ke dokter gigi di Canberra dan dia merekomendasikanku ke dokter gigi yang ternyata cuma walking distance dari tempat tinggalku. 13-15 menit jalan kaki. Aku tau jika gigi sedang sakit, si dokter tidak akan mau menambal atau mencabutnya, paling dikasih treatment awal. Tak peduli, kudatangi saja alamat yang direkomendasikan sahabatku itu. Setiba disana aku disambut resepsionis dan ku katakan langsung padanya, yang dalam bahasa Indonesia kira-kira ‘mau jumpa dentist, gigiku nyut-nyut luar biasa’. Si resepsionis tersenyum, ‘have U made the appointment?’, ‘Ooo Allah kata hatiku’. ‘No, not yet’ responku. ‘Sorry sir, we can’t treat U at the moment, because we have others in queue who have already made appointment for today’, jawabnya. ‘So ,when?’ tanyaku sambil menahan senut-senut di geraham kiriku yang makin menjadi-jadi. ‘Well, fill the form first, and let see…., may be tomorrow you can come at 12.15pm’. Ku isi segara form tersebut dan kuserahkan padanya, sambil berucap ‘thanks very much’, dia senyum sambil berucap, ‘no worries, see you tomorrow’.

Aku pulang dengan berbagai beban fisik dan mental. Beban fisik, karena sakitnya menjadi-jadi; sedangkan beban mental, jangan-jangan inilah ujian dari Allah yang akan menghambatku graduate di semester ini. Kucoba bersitighfar, untuk mengembalikan kesadaranku supaya tetap dalam orbit yang benar, bahwa apapun kejadian dalam hidup ini ‘jangan pernah ber-su’udzon (berburuk sangka) kepada Allah.

Essay-essay ku ini terbengkalai, sama sekali tak kusentuh. Fisik dan pikiranku tersita oleh sakit gigi. Keesokan harinya tepat pukul 12.12am, 3 menit menjelang waktu yang dijanjikan aku sudah hadir di bangku antrian. Seorang perempuan paroh baya (50an Th), memulai pembicaraan. ‘Wanna see doctor L** too’ tanya nya, ‘Yup’, jawabku singkat sambil tersenyum. ‘She is a very nice dentist’ imbuhnya; ‘hoo’ responsku sambil mengangguk-angguk. Giliranku tiba ‘Mr.Al, come please, panggil seorang blonde muda, mungkin 20-22 tahun. ‘Muda bener ni dokter, bener gak ya berpengalaman kata hatiku’. ‘Please lay there’, katanya sambil menunjuk kursi pasien gigi, dan dia datang memberiku kaca mata hitam untuk menghindari sinar lampu ruangan yang persis di depan mataku. ‘Just wear it, doctor L** won’t be long’ katanya. ‘Ooo, pantesan muda banget bukan dokternya ternyata’, kataku dalam hati. Dalam hitungan 1-2 menit si dokter datang. ‘Hey how are U?’ tanyanya ramah. ‘My tooth was really pain yesterday’. ‘Alright, open your mouth please’, dia masukkan alat dentist ke gigiku dan dilihatnya lobang gigiku, ‘wooww, its big hole in here’. ‘We can numb it first and after that we can fill it but I can’t guarantee that it will be last for long’ kata si dentist. ‘Serrrrrrrr darahku berdesir kencang, saat dia bilang I can’t guarantee it will last for long, maknanya, mau tidak mau satu gigi geraham kiriku akan melayang dalam waktu yang tidak akan lama lagi. Makin berkurang nikmat dan kenyamanan makan yang diberikan oleh Sang khaliq.

Dia ketuk2 tiga kali gigiku, ‘is it pain?’ tanyanya, ‘bit’ jawabku. Kemudian, si dentist berkata lagi, ‘Alright, we numb it now and let see whether we can fill (seal) it today or not. ‘Well, I will face exams in the next two weeks, do you think it’s possible for me to take any medical prescription from you to relieve the pain first. And…., possibly, I will comeback here after exams, pintaku. ‘Sure, why not’, katanya. Langsung dituliskannya resep obat yang harus kubeli di Chemist. Berselang beberapa detik, si resepsionis bilang, ’40 dollars, for that Al’. ‘Thanks’, sambil membuka dompet dan kuserahkan pecahan 50 dollar AUD dan dikembalikannya sepuluh dollars sambil tersenyum. Ku tanya, ‘where is the Chemist (apotek) around here?’, ‘Ooo it’s in civic, ten minutes walking from here’ balasnya. ‘Oo I know the one in the civic’, balasku balik dan ‘Ve a nice day’ kataku, ‘U too’ responsnya. ‘Standardlah, gak mahal-mahal kali bagi seorang student dan pekerja blue collar part time’ ucapku dalam hatiku sambil bergegas menuju Chemist’. Tapi kalau di rupiahkan mungkin terkesan relative mahal 40AUD=Rp 344.000, hanya untuk service ‘3 kali ketukan di atas gigi geraham plus durasi konsultasi yang secara total waktu tidak lebih dari 5 menit’. Aku tidak kesal, karena aku sudah dapat priscription, sementara pasien-pasien yang lain masih ngantri.

Seorang teman bercerita bahwa ada seorang sahabat yang lainnya ‘nyabut or nambal gigi’ di-charge 500 AUD. Si teman gak bilang sih, itu untuk berapa gigi. Kalau cuma satu atau dua gigi, wah benar mahal. Soalnya kalau di konversi ke Rupiah 500x8600= Rp. 4,3 jt. Nah, seperti guyonan teman yang lain, ‘eee, kalau segitu (4,3 jt) bisa buat cabut atau nambal “semua” gigimu di Indonesia Al, he he he’, cengirnya.

In ten minutes, aku sampai di Chemist dan kudapatkan obat ‘canggih’ ini kawan. Kenapa kubilang ‘canggih’, soalnya tertera ‘Nur**** is effective in the temporary relief of pain and /or inflammation associated with: headache, migraine headache, tension headache, muscular pain, cold & flu symptoms, reduce fever, period pain, dental pain, sinus pain, back pain, arthritic pain’. Awalnya, aku kaget, ni dentist main2 kek nya ngasih prescription, atau memang keliru gumamku, sambil membaca dalam hati, khasiat dari obat ini. Aku kaget, karena, pertama, begitu banyaknya jenis penyakit yang bisa di obati oleh si ‘Nur****; kedua, karena aku tidak menemukan kata-kata ‘tooth/teeth pain’, malah mataku tertuju pada ‘period pain’, hah, ini mah bukan obat buat saya, kata hatiku, ‘Yo bagarah ko dokter nampaknyo’=guyon ni dokter keknya). Kubaca ulang, ooo ternyata ada dental pain, memang gak ada tooth/teeth pain. Alhamdulillah, obat ini luar biasa. Paling lama, 20 menit setelah kuminum, sakit nya insyaAllah langsung hilang.

Saat kondisi sakit yang memuncak ini, aku minta izin off kerja. Si boss bilang ke teman kerja ku. ‘Al should come, because the pain is in his tooth not all part of the body’. ‘Eh dia gak tau sih Mas, gimana rasanya sakit gigi’ ungkapku, ‘benerrr’, kata si Mas, temanku. Kuanggap guyonan aj kata-kata si Boss, atau kuanggap saja ia lagi kangen denganku karena gak lengkap duet main foosball di waktu rehat, jika aku tidak datang. Sampai saat ini aku berdo’a supaya si Boss jangan pernah menderita sakit gigi. Namun, jika Allah menakdirkan ia dihinggapi oleh penyakit ‘pangeran/putri-nya’ penyakit ini, maka ia pun mungkin akan teringat dengan guyonannya padaku.

Tik-tok, tik-tok, tik-tok, waktu tak mau kompromi temans. Bahkan satu detikpun dia takkan berhenti, apalagi mundur, never, never and neveeeee. Beberapa hari aku hanya berusaha menghilangkan rasa sakit yang kadang datang kadang hilang. Sekali-sekali aku ke dapur cuma sekedar melihat chicken drum-stick (paha ayam), udang Thailand dan sayur mayur (mushroom, wortel, broccoli, English Spinach, Chinese Choy, yang kusimpan di kulkas. Aku hanya memandanginya saja, tidak lebih. Menyentuhnyapun tidak, apalagi memasaknya. Padahal, jika dalam kondisi normal, at least 1 kali sehari aku sempatkan untuk masak di dapur, biasanya sebelum sholat dzuhur. Karena tidak masak, palingan aku hanya melahap telur dadar, sarden, dan lalapan---gak sehat ni menu. Kalau gak, maka, menunya bisa roti tawar+madu+Susu kedelai jahe+buah2an.

Alhamdulillah, secara tertatih, essay-essay ini dapat kuselesaikan. Aku mendapat extension (tambahan waktu 3 hari karena sakit). However, sebelumnya, sempat terjadi peristiwa yang menjejal rasa optimismeku untuk graduate karena bermasah disalah satu course. Masalahnya begini, ternyata surat keterangan dentist yang menjadi syarat untuk mendapatkan extension di course tersebut, ku kirim ke email yang salah, (mestinya kukirim ke JO*******@anu.edu.au, tapi malah terkirim ke JO*******@anu.edu.edu), kesalahannya terletak di bagian terakhir seharusnya <.au> tapi kutulis <.edu.> Walaupun ini kecerobohanku, tapi tidak seratus persen kesalahanku, karena email yang salah ini (JO*******@anu.edu.edu), merupakan copy paste dari bahan presentasi power point sang Dosen di hari pertama kuliah. Kujelaskan semua runut persoalan, termasuk kelalaianku untuk mengecek ulang email dihari berikutnya yang ternyata sudah ada pemberitahuan bahwa kiriman emailku gagal. Akhirnya, sang Dosen memaklumi. Menurutku, ini murni karena logisnya penjelasanku dan kondisi fisikku yang memang sudah pathetic (mata cekung dan merah, pipi kempot, bibir pecah-pecah), bukan karena aku ‘dekat’ dengan staff2 dan dosen di departemen karena berstatus sebagai student representative bersama enam kolega lainnya.

Begitu essay-essay akhir ini terkumpul, pada saat yang sama, tumpukan kopian jurnal dan buku sudah menunggu di samping laptop. Total enam ribu kata take home exam, masing-masing 4500 kata untuk ‘Global Civil Society’ Course dan 1500 kata untuk ‘Evolution of International System’ course, harus kutuntaskan dalam waktu dan tempo yang sesingkat-singkatnya. Plus, sepuluh hari lagi sit-in exam untuk course ‘Oil, Politics, Religion, and Conflicts in Middle East’. Kesemuanya ini harus tuntas dalam waktu lebih kurang 6 hari. Padahal, dalam waktu normal, menulis essay 3000 kata saja kami biasanya diberi waktu 1 bulan lebih. Namun, karena ini ujian akhir, tentu berbeda dengan menulis essay biasa, tapi tetap harus sesuai dengan aturan penulisan essay (harus dilengkapi dengan bibliography yang standard).


Bersambung…part 2

Gigi, Makan(an), & Bunda=Graduation ☺: Part II

Huuuhfftt tinggal 6 hari menjelang batas akhir pengumpulan take-home exam. Aku tertekan. ‘6000 ribu kata dalam enam atau lima hari ini?’ tanyaku dalam hati. Kemampuan rata-rataku hanya 1000 kata perhari (bukan mengetik: tapi menulis plus editan grammar--yang sering dikritik karena seringkali tidak sempat mengedit grammar disebabkan waktu yang mepet—tapi ini jika reading materialnya sudah dibaca, di-paraphrase (menulis ulang gagasan pakar yang dibaca dengan bahasa sendiri, bukan kutipan), dan writing in critical thinking. Nah, sekarang, jangankan writing in critical thinking, paraphrasing saja belum sempat. Paling baru membaca, itu pun skimming (lompat-lompat saja, melihat ide/gagasan utama tiap paragraph).

Kemana nak mengadu? Gak ada selain padaNya. Gak ada, demi Allah, hanya Allah saja tempat bergantung sobats…Bayangkan saja, rekan-rekan sejawat secara giat sudah mulai sejak dua minggu yang lalu mengumpulkan materi-materi yang relevan dengan pertanyaan2 ujian dan sudah siap dengan draft, annotated bibliography, references, hingga, paraphrasing dan tinggal menuliskan saja.

Aku? hanya terpaku, termangu, bertopang dagu, saat gigiku mulai menganggu. Lebih tertekan lagi saat kulihat status teman-teman kolega di facebook, beberapa teman dari Vietnam, Aussie, Taiwan sudah berkomen ria di status mereka ‘Yay, one more left’ kata si Vietnamese. Teman-temannya pun nagsih ‘jempol’-(like this). Seorang teman dari Taiwan beberapa hari yang lalu ngup-date statusnya ‘melting in her room’, bahasa kampung ku ‘mencaie di kamar’ atau ‘cair di kamar’. Cair!, saking ribetnya nyelesaikan tu exam dan saking panasnya udara Canberra 38 degree dan kamarnya ada dilantai tiga (paling atas, means paling panas saat ujung-ujung Spring, apa lagi summer). Sudah lazim, cuaca di Canberra mengalami fluktuasi (turun-naik) luar biasa, dari 38 degree, keesokan harinya bisa menjadi puluhan bahkan belasan degree. Alhamdulillah, aku selalu berdo’a agar fluktuasi imanku tidak se-ekstrim fluktuasi cuaca di Canberra ☺.

Kembali ke temanku si Taiwanese. Sebenarnya dia sudah half way go, (nyelesaikan separoh). Selang beberapa detik dari up-date status ‘melting in her room’ nya, seorang teman dari Aussie memberi komen ‘Easy darling, U can make it, yes you will make it, go go go☺’ . Maka beruntunlah teman2 yang lain, ngasih support, baik berupa komen-komen atau pun ‘jempol2’. Seorang American fella pun sudah memancing-mancingku untuk jogging dan sekedar bagi-bagi passing bola di lapangan belakang Hall. Dia berucap, ‘come on Al, don’t be lazy, let’s joggin’ out there man and kick the ball’. Huhhfftt, tanda2 : takehome exam nya bisa kuduga, setidaknya half way go…, kalaupun tidak selesai.

Bismillah, kataku.., ‘Gaaaaassss (gas mobil=melajulah), Hajaar Kan!!! (Nakan=Ponakan=Keponakan=t
api di sini berarti sebagai panggilan teman pada teman akrab di kampungku), Apo Yu Leeeh’ (Apa juga lagi yang ditunggu) kata ku. Kumaksudkan kata-kata ini untuk memotivasi diri sendiri. Kali ini tidak dalam hati, tapi nyaring, loudly, mungkin terdengar garing sama tetangga-tetangga PhD ku. Karena di blokku A205-A209, ada tiga mahasiswa Phd yang riset dibidang (Komputer-dari India, Krimonologi-Kamboja, Lingkungan-Aussie), satu mahasiswa Undergrade (dari Singapore) dan seorang mahasiswa Master (aku). Non-stop temans, rekans, sobats, non-stop kulahap take-home exam tu.

Alhamdulillah, gigiku membaik, kuberdo’a dan berjibaku, tunggang langgang serta pontang-panting, bersetungkus-lumus dikamar dan juga lab komputer dilantai dasar Hall (untuk nge-print kalau ada bahan yang harus diprint). 5 days left. Tidur hanya 2-3 jam d waktu malam, plus 20-25 menit lepas makan dan ba’da setiap sholat sambil tetap mengaktifkan alarm handphone agar tidur tidak kelamaan. Si C*****, mahasiswa Phd dari Aussie melihat kasak-kusuk pada dirku dalam 2 hari terakhir dan dia menawarkan bantuan untuk membaca essay-ku jika aku mau di bantu. Tentu, aku senang, ‘barangkali, ini pertolongan Allah yang tak boleh disia-siakan’, sebutku dalam hati. Begitu dia membaca hasil ketikanku, keningnya langsung mengerinyit dia bingung. Mungkin, karena saking ‘kencang (sebenarnya gak kencang, tapi berasa kencang aja di hari-hari itu) aku ngetik, ternyata ooohhh ternyata…,kutipan ku pun tidak masuk akal dan dia bertanya, ‘Al…., this line does not make sense to me, I think you quote wrongly, please check it again’. Kubaca, waaah, memang lah, keliru. Salah kutip. ‘Jaka sembung bawa Asoy, kaga’ nyambung Choy’. Gawat, gawat. Kalau lah ada Upin dan Ipin di situ, mereka pun akan berucap ‘is is is iiis’.

4 days left. Enter….. kutekan tombol ‘Enter’, di lapy Apple tua ku, berarti tanda terkirimlah satu Course ‘Evolution of International System’ 1500 kata. Rehat, beberapa menit, hirup udara di luar Hall, niatnya mau ‘nyetel’ body dulu: putar upper-body ke kiri dan ke kanan, liuk-liukkan pinggang, tendang kiri-tendang kanan, tarik nafas dalam-dalam, lepas kan pelan-pelan sambil memandangi hijaunya daun di musim Spring (semi). Hatiku senang, riang. Ini, modal, bisikku (pada diri sendiri). Pengkondisian psikologis itu penting sekali menurutku. Saaaap, aku balik ke Apple tua, berharap dia akan menemaniku tanpa masalah untuk 4500 kata kedepan.

Aku hanya bisa berucap, subahannallah, walhamdulillah, wala ila ha illallah wallahu akbar, disela-sela istirahatku. Betapa tidak. Gak pernah, ideku mengalir sederas ini, bahkan kurasa lebih deras dari aliran sungai Rokan dikampungku saat ia pasang. Jari-jariku juga tak mau kalah, seperti gak ada ‘letoy’nya (baca lemas). C*****, membantuku membaca hasil sebagian ketikan-ketikanku. Dia bilang, ‘wow lot better Al, this is great and nice to read’. ‘Wooww’, kata ku dalam hati’. ‘Ooo Really?’ tanyaku. ‘Yes, yes, it is’ jawabnya sambil berlalu, ‘Congrats Al’ imbuhnya lagi sebelum lenyap di koridor common room. Walhasil, 9 menit menjelang batas akhir pengumpulan, kusentuh dengan pelan tombol ‘Enter’, sambil berkata dalam hati. ‘Edit lagi gak ya?, ya sudahlah’, ‘Bismillahirrohmanirrohiim’, Yes, yes. Done. Alhamdulillahirobbil’alamin…☺.

Tetap bersyukur, walau berat badan susut dari 55-52,5kg karena terforsir selama seminggu. Tp, gak pa pa, setidaknya lebih dari 2 Aussie yang secara langsung bilang ‘Your body Shape is really good’. Dalam hati kecilku ‘Yo godang cemeeh Etek ko Mah’ (Besar betul cemooh Tante ni ya). Kemudian dia melanjutkan, ‘Look, two of us, struggle to get body shape as yours, but still see…” sambil memutar badannya. Ssst…(maaf, memang kelihatan obese). Obese (kelebihan berat badan) memang momok yang menakutkan di Aussie. ‘How lucky you are, young man’, imbuhnya sambil berlalu. Jadi tafsiran tentang gemuk vs kurus, tergantung tempat dan situasi. Di Indonesia, relatif ‘cukup banyak’ orang yang berpandangan bahwa Gemuk=Kaya=Sejahtera=Sehat=Senang=Gembira. Sebaliknya, Kurus sama dengan Miskin=Melarat=Sakit-sakitan=Tidak bahagia=Stress. Tapi tidak semua orang Indonesia berpandangan begitu, ‘cukup banyak’, maksudku (Kalau ada 15 Juta orang saja yang berpandangan demikian dari total penduduk Indonesia yang mendekati angka 250 Juta), itu kan cukup banyak. Sebagai perbandingan total penduduk Aussie cuma mendekati angka 22 juta jiwa. Sebaliknya di Aussie 'cukup banyak' orang prefer, menjadi 'kurus' (tentu bukan kurus kering kerontang) . Karena, 'kurus' diasumsikan sebagai orang yang 'aktif', tidak berpotensi besar untuk mengidap penyakit-penyakit yang disebabkan oleh kelebihan berat badan/obese seperti (diabetes, gout:asam urat, serangan jantung, stroke, kanker, gagal jantung, oesteoartritis, sindroma Pickwickian, tidur apneu). Dan juga 'kurus' di asosiasikan sebagai orang yang pandai menjaga kesehatan karena mampu melakukan exercise secara teratur. Allahu'alam...

Sejenak kekhawatiranku hilang. Kembali beraktifitas seperti biasa, tapi rasa was-was tetap menghampiri. Lulus gak ya? Lulus gak ya?. Palingan tilawah Qur’an, main futsal, atau main foosball dengan si Boss dan rekan sejawat yang membuatku agak jauh dari rasa was was itu. Saat sholat, tentu disaat-saat sujudpun aku bermunajat pada Allah agar diberi hasil yang terbaik menurutNya. Ternyata, rasa-rasa was-was itu menjadi kenyataan. 10 hari menjelang di rilis pemberitahuan kelulusan, Dosen yang memberiku extension mengirim email ke account student email-ku sebagai berikut:

‘Hi Al
I'm just finalising my marking for the ******** course and have realised that your essay is not in my print outs. I am having problems downloading a copy of it from WebCT ( for some reason my various PCs don't recongnise the file format. Could you resend it to me asap, either as an RTF or as a PDF file?’

Many Thanks
J*******

Oooo ni dia yang buat hatiku was-was, ‘gumamku’. Langung ku kirim essay ku dalam format pdf dan rtf sekaligus…, ‘Bengggggg…..:D’, ke ketuk meja di lab komputer Hall, sambil kuputar kursi chair-gas tiga keliling, Yes…, Alhamdulillah, kali ini teman2 d lab gak perhatiin karena asik dengan monitor masing2. Karena biasanya mereka respons, kalau aku beri ‘gesture’ happy. ‘What’s up Al’, ‘just happy, good luck mates’ respon lazimku ke teman2 sambil melempar senyum…☺ sembari meninggalkan ruangan.

‘Ikhtiar sudah, do’a terus, mesti ditambah tawakkal’, itu yang dibilang Ibuku yang terus terngiang di daun telingaku saat dia nelpon. ‘Ibu selalu berdo’a kok sayang’ tambah nya. Makanya begitu selesai take-home exam ku, langsung ku update status facebook ‘Bunda Sayaaang: Makasih Atas Do'a mu... Alhamdulillahirobbil'alamiin...:), sekedar ngabarin ke rekanz bahwa Ibu ‘means’ sekali bagi-ku.


Boleh dibilang bahwa mayoritas manusia didunia merasakan ikatan emosi yang sangat erat dengan Ibunya. Begitupun aku. No doubt about that. Ibuku adalah seorang yang menangis saat putra semata wayangnya ini di vonis dokter ‘tidak akan bertahan lama’, alias ‘akan segera mati=ko’id=pass away’ pada tahun 1988, di usia lima tahun. Seorang anak laki-laki satu-satunya dikeluarga saat itu, karena adikku yang bungsu belum lahir. Seorang anak laki-laki yang juga terbaring di Rumah Sakit Tentara Pekanbaru sewaktu bentrok dengan polisi saat Aksi anti korupsi di KAJATI RIAU yang tidak diketahuinya (karena aku melarang siapapun memberi tahu orang-tua ku, khawatir ibu ku shock), hingga seorang kerabat datang kerumah dan bertanya, ‘Kak, Ari masuk Rumah Sakik kok Akak ndak tau?’, sambil memperlihatkan fotoku (disuatu media lokal) yang sedang dikerumuni rekan-rekan mahasiswa beberapa menit setelah bentrokan. Bahkan salah satu media, memuat gambarku, masih dengan Helm Merah kesayangan, tampak terkulai digotong sobat2 sejati dengan headline yang mencuri perhatian pembaca “Presiden BEM UNRI pingsan’: “Bentrokan di Depan Kajati Riau”—Kutipan Kedua ini aku lupa, benar persis atau tidak, jika salah bisa dikoreksi kemudian hari karena file nya ada dirumah (Pekbanbaru). Bundaku datang, berurai air mata, ‘ngapo anak sayang Ibu ko haa’ katanya sambil memelukku yang sedang terbaring dan di infuse dua hari setalah kejadian bentrok dengan polisi.

Yup, no doubt, dia lah selalu yang ngirimi aku sms ‘Sayaaang , gmn giginya?, jadi ke dokterkan?’. ‘Sayang bunda berdo’a dan yakin dengan janji Allah bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan: Insyirah: 5’. ‘Sayang makan apa siang ini, masak ya?’ ‘Sayang rambutan sudah masak ee di rumah, sepertinya akan habis sebelum sayang pulang, Bunda mau liat sayang makan rambutan didepan Bunda’. ‘Sayang, asam urat Bunda kambuh ee, kebanyakan makan durian mungkin, do’a kan sembuh ya’. Sederet sayang-sayang dan sayang lainnya yang takkan muat kutiliskan disini. Sungguh, My Mom and my dad are two indisputable reasons for me to comeback to the homeland.

Hari ini, Allah mengabulkan do’a Bunda-Abah ku. Rekanz, alhamdulillahirbbil’alamin. I pass the exam, I will (inysaAllah) attend the graduation on 11th December 2009 :). Happy to wipe my Mom’s tears. Happy to wipe my Dad’s sweats.

Sekedar mengingatkan diriku sendiri dan rekanz semua; adalah semua manusia memiliki rasa gembira, bahagia dan cinta dan bagiku sebagai seorang muslim, itu membuatku gembira, bahagia, dan punya cinta, dengan cita rasa nan ’lua biaso’ (baca:luar biasa). Karena…. Coba engkau renungkan nukilan hadith berikut temans:
Dari Abu Yahya, yaitu Shuhaib bin Sinan Shallallahu 'alaihi wa sallam , katanya: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Amat mengherankan sekali keadaan orang mu'min itu, sesungguhnya semua keadaannya itu adalah merupakan kebaikan baginya dan kebaikan yang sedemikian itu tidak akan ada lagi seseorangpun melainkan hanya untuk orang mu'min itu belaka, yaitu apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, iapun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya, sedang apabila ia ditimpa oleh kesukaran - yakni yang merupakan bencana - iapun bersabar dan hal inipun adalah merupakan kebaikan baginya." (Riwayat Muslim)_Posted by seorang “adik-ku”-not in blood but in faith di FK Universitas Riau Hannan Khairu: Ganbatte!!!!

Hikmah 1: Menjaga Kesehatan (secara umum) itu penting Rekanz. Sakit gigi itu beda dengan sakit-sakit yang lainnya, pokoknya beda deh. Makanya, jaga baik-baik gigimu Rekanz, kuberdo’a supaya temans jangan sampai menderita sakit gigi…☺

Hikmah 2: Kalau ada rezki studi atau kerja /beraktifitas di luar negri untuk waktu yang relative lama, mending urusan gigi di selesaikan di Indonesia.

Hikmah 3: Have U told your mom today that you love her. ‘Bunda aku mencintaimu’ or you can say as what I say this morning to my Mom, ‘Mom, I love U’ (Modif: Naga Bonar 2—Kalau gak bisa bilang dalam bahasa Indonesia karena ‘apalah’ alasannya, cuba dengan bahasa lain, bahasa kampung, bahasa asing or U know better than me ‘bout this phrase :) ). Benar, cinta itu tak selalu harus di ucapkan, tapi terkadang memang harus di lafazkan, coba lah temans…☺. Jika handphone sedang ditangan, pencet nomor Bundamu, call langsung…☺

Hikmah 4: Bersyukurlah dengan kelapangan hidup dan bersabarlah bila ditimpa kesukaran, sesungguhnya pada keduanya (Bersyukur dan Bersabar tiada lain, selain kebaikan)

Hikmah 5: ,dst…cari sendiri he he ..☺

Alfajri/DownUnder-Canberra/ToadHallA205/1-12-2009/3.49pm/
Warm Regards…☺

Hehe...:) Just Joke..Istri Programmer

Istri Programmer

Sebelum memutuskan untuk menikah dengan IT Guys pikir dulu masak-masak dan jangan menyesal kemudian. Makanya perhatikan baik-baik percakapan antara
seorang istri dengan suaminya, seorang Software Engineer.

Suami: (Pulang telat dari kantor) "Selamat malam sayang, sekarang saya logged in."
Istri: "Apakah kamu bawa oleh-oleh yang aku minta?"
Suami: "Bad command or filename."
Istri: "Tapi aku bilangnya dari tadi pagi!"
Suami: "Errorneous syntax. Abort?"
Istri: "Trus, bagaimana tentang beli televisi baru?"
Suami: "Variable not found..."
Istri: "OK deh, kalo gitu aku minta kartu kreditmu. Aku mau belanja sendiri aja."
Suami: "Sharing Violation. Access denied..."
Istri: "Apakah kamu lebih mencintai komputer daripada aku? Atau kamu hanya main-main saja?"
Suami: "Too many parameters..."
Istri: "Itu kesalahan terbesar kalo saya menikahi orang 'idiot' sepertimu."
Suami: "Data type mismatch."
Istri: "Kamu tidak berguna."
Suami: "It's by Default."
Istri: "Bagaimana dengan gajimu?"
Suami: "File in use ... Try later."
Istri: "Kalo gitu apa posisiku di keluarga ini?"
Suami: "Unknown Virus."

Source: Lupa, dapat dimana, pastinya lg iseng browsn' jokes..
Maaf bagi yg ngerasa punya hak paten

Pilem lua Versi Padang, Bagarahnyo Kawan! :-)

Enemy at the Gates = Lah tibo lawan di pintu
Batman Forever = Kalalauang
Remember the Titans = Lai Takana jo si Titan
The Italian Job = Karajo maliang
Die Hard = Payah matinyo
Die Hard II = Alun Juo Mati Lai?
Die Hard III With A Vengeance = Ondeh Mandeh.. ndak juo mati mati doh?
Bad Boys = Anak Kalera
Sleepless in Seattle = Mangantuak..
Lost in Space = Ilang di awang awang
Brokeback Mountain = Gunuang patah tulang
lCheaper by Dozens = Bali salusin tambah murah..
You 've got Mail = Ado surek tuh ha
Paycheck = Pitih Gaji
The Day After Tomorrow = Saisuak
Die Another Day = Ndak kini matinyo..?
Silence of the Lamb = Kambiang pangambok
All The Pretty Horses = Kudonyo rancak-rancak
Planet of the Apes = Planet Siamang
Gone in Sixty Seconds = Barangkek lah waang Lai
Original Sin = Sabana-bana doso
Crash = Balago kambiang
Copycat = Kopi Kuciang
Seabiscuit = Makan Biskuit di Lauik
Freddy vs Jason = Bacakak
Just in Heaven = Lah di Surgo
Air Bud = aia si Budi
How To Lose A Guy in 10 Days = Baa caronyo manyipak urang..
Lord Of The Ring = Juragan batu cincin
Deep Impact = Taraso dalamnyo
Million Dollar Baby = Anak Rangkayo
Dumb and Dumber = Pakak jo sabana Pandia..


Source: Lupo jo sabana indak takana d ma dapek ko ha...!