(Part 1)
Sebelum kehilangan dua geraham kanan, aku termasuk orang yang ‘sangat’ kurang perhatian terhadap gigi. Namun, tahun 2006 karena sakit gigi yang akut dan lubang yang sangat besar, maka aku harus merelakan ‘kepergian dua geraham kanan’ di tangan seorang dokter gigi. Hingga pertengahan 2008, aku cukup perhatian dengan gigi, setidaknya tiga kali sehari harus digosok, sebelum 2006 aku pernah menggosok gigi sekali sehari, upssss …,yaitu di pagi hari. Is is is, Gawat!, tapi ‘pernah’ lo, ingat ‘pernah’ bukan berarti tiap hari..he he.. Biasanya aku menggosok gigi dua kali sehari, itu yang kuingat secara sadar, yang yang gak sadar? Allahu’alam…☺
Hari demi hari berlalu. Ternyata benar, seperti kata dokter gigi, tanpa gigi geraham, makan itu tidak akan nikmat. Dari sini, hikmahnya adalah, betapa satu nikmat saja dicabut oleh Allah (nikmat memiliki gigi geraham) memiliki pengaruh yang cukup besar bagiku. Disini, berlakulah ayat Allah di surah Ar-rahman, ‘Fabiayyi’ala irrobbikuma tukazziban’ (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan), yang kalau tidak salah ada 31 (tiga puluh satu) kali dinyatakan oleh Allah SWT.
Jujur, aku termasuk orang yang ‘doyan makan’, tapi tidak juga pilih2. Makanya, ibuku senang masak kalau aku dirumah. Soalnya, masakan apa saja dibuat bunda, insyaAllah lewat dengan dahysat. Bahkan, selama 8 bulan pertama di Canberra, praktis aku makan nasi+lauk (seperti menu di Indonesia), biasanya sekali dalam seminggu saja, yaitu ba’da jum’atan karena ada teman2 dari Indonesia yang jualan masakan Indo atau kalau di undang teman-teman dari Indo yang rata-rata sudah berkeluarga, aku biasanya dihidangin makanan Indo ssstt…☺ (senang euyyy), nah bisa dua kali jumpa nasi dalam seminggu. Selebihnya, apa saja, yang penting kenyang. Kalau teman2ku di Indonesia yang suka makan, dan relatif akrab dengaku, biasanya tidak perlu nanya mau makan kemana kalau ngajak aku makan , cukup ikut saja, nanti juga ‘dilarap’ habis. Apalagi rata2 makanan dan minuman kita ada ‘S’ baca ‘es’ nya, seperti ‘Soto, Miso, Bakso, Mie Sagu, Nasi goreng, Tongseng, Sate, Siomay, Es rumput laut, Es Jeruk, Es Teh, Es Tebak, Es Cendol, hingga S, S, dan S (Semuanya, Siap, Sikat)-Maksudku gak milih-milih, semuanya bisa diterima oleh seleraku, bukan berarti kesemuanya itu dimakan sekaligus, itu namanya dalam bahasa kampungku “Congok atau Buluo” or you say it ‘greedy’.
Sewaktu tinggal dengan teman dari Pakistan, menu makanku persis seperti orang Pakistan: roti Lebanon+curry ayam, briyani, kadang juga makanan India. Sejak tinggal on-campus accommodation, mulai sering makan nasi, at least 4 kali seminggu. Nah, kaitannya dengan gigi, aku merasa selera makanku tidak berkurang, cuma, kurang nyaman karena harus mengandalkan geraham kiri, yang aku yakin ini juga tidak akan bertahan lama jika dipakai terus-menerus tanpa gantian dengan geraham kanan, karena memang sudah tidak ada.
Dugaanku tidak meleset. Tepat tiga minggu menjelang semua tugas essay2 akhir harus di kumpul, bagian tengah, salah satu geraham gigi kiriku keping, sewaktu menggosok gigi. Bukan karena gosokannya terlalu kuat, tapi memang sudah ada tanda-tanda akan serpih beberapa hari sebelumnya. Sontak, aku menghentikan gosokan dan kubuang serpihan tersebut. Kumur-kumur, kemudian kutatap sosok diriku sendiri di depan cermin kamar mandi sambil berucap ‘You are in hot water’ (Kamu dalam masalah). Serpihan-serpihan berikutnya menyusul dihari-hari setelahnya yang membuat lubangnya cukup besar.
Secara psikologis aku sangat terganggu, karena aku sedang mengerjakan draft 3 essay courses (mata kuliah) yang harus kuselesaikan dengan baik jika ingin tamat dan wisuda bulan December ini. Sekarang, tekanan psikologis sudah bertambah dengan tekanan fisik yang sudah kuperkira akan menyusul. Tekanan fisik, yaitu sakit gigiku mulai menjadi-jadi. Aku tidak bisa mengerjakan, essay-essay ini dengan baik, lebih banyak uring-uringan dikamar. Anehnya, jika aku pergi kerja part time atau beraktivitas fisik (biasanya futsal), maka sakit gigiku boleh dikatan hilang. Namun, jika sudah di ToadHall, selesai makan dan duduk ingin menyelesaikan tugas, gigiku mulai berulah. Ya Allah, please help me… Aku tidak boleh menyerah, kata hatiku, whatever it takes, I must graduate!. Ku kontak dokter gigiku di Indonesia, sekedar mengurangi beban psikologis, untuk meyakinkan diri what should be done, walauapun aku sudah menduga apa yang akan disarankannya, ‘see the dentist’, dan benar, si dokter bilang, ‘konsultasi segera Fajri, ke dokter gigi di sana’.
Dokter gigi di Canberra lumayan mahal menurutku, tapi, itu baru dengar2 info dari teman.Ku kontak seorang teman yang pernah ke dokter gigi di Canberra dan dia merekomendasikanku ke dokter gigi yang ternyata cuma walking distance dari tempat tinggalku. 13-15 menit jalan kaki. Aku tau jika gigi sedang sakit, si dokter tidak akan mau menambal atau mencabutnya, paling dikasih treatment awal. Tak peduli, kudatangi saja alamat yang direkomendasikan sahabatku itu. Setiba disana aku disambut resepsionis dan ku katakan langsung padanya, yang dalam bahasa Indonesia kira-kira ‘mau jumpa dentist, gigiku nyut-nyut luar biasa’. Si resepsionis tersenyum, ‘have U made the appointment?’, ‘Ooo Allah kata hatiku’. ‘No, not yet’ responku. ‘Sorry sir, we can’t treat U at the moment, because we have others in queue who have already made appointment for today’, jawabnya. ‘So ,when?’ tanyaku sambil menahan senut-senut di geraham kiriku yang makin menjadi-jadi. ‘Well, fill the form first, and let see…., may be tomorrow you can come at 12.15pm’. Ku isi segara form tersebut dan kuserahkan padanya, sambil berucap ‘thanks very much’, dia senyum sambil berucap, ‘no worries, see you tomorrow’.
Aku pulang dengan berbagai beban fisik dan mental. Beban fisik, karena sakitnya menjadi-jadi; sedangkan beban mental, jangan-jangan inilah ujian dari Allah yang akan menghambatku graduate di semester ini. Kucoba bersitighfar, untuk mengembalikan kesadaranku supaya tetap dalam orbit yang benar, bahwa apapun kejadian dalam hidup ini ‘jangan pernah ber-su’udzon (berburuk sangka) kepada Allah.
Essay-essay ku ini terbengkalai, sama sekali tak kusentuh. Fisik dan pikiranku tersita oleh sakit gigi. Keesokan harinya tepat pukul 12.12am, 3 menit menjelang waktu yang dijanjikan aku sudah hadir di bangku antrian. Seorang perempuan paroh baya (50an Th), memulai pembicaraan. ‘Wanna see doctor L** too’ tanya nya, ‘Yup’, jawabku singkat sambil tersenyum. ‘She is a very nice dentist’ imbuhnya; ‘hoo’ responsku sambil mengangguk-angguk. Giliranku tiba ‘Mr.Al, come please, panggil seorang blonde muda, mungkin 20-22 tahun. ‘Muda bener ni dokter, bener gak ya berpengalaman kata hatiku’. ‘Please lay there’, katanya sambil menunjuk kursi pasien gigi, dan dia datang memberiku kaca mata hitam untuk menghindari sinar lampu ruangan yang persis di depan mataku. ‘Just wear it, doctor L** won’t be long’ katanya. ‘Ooo, pantesan muda banget bukan dokternya ternyata’, kataku dalam hati. Dalam hitungan 1-2 menit si dokter datang. ‘Hey how are U?’ tanyanya ramah. ‘My tooth was really pain yesterday’. ‘Alright, open your mouth please’, dia masukkan alat dentist ke gigiku dan dilihatnya lobang gigiku, ‘wooww, its big hole in here’. ‘We can numb it first and after that we can fill it but I can’t guarantee that it will be last for long’ kata si dentist. ‘Serrrrrrrr darahku berdesir kencang, saat dia bilang I can’t guarantee it will last for long, maknanya, mau tidak mau satu gigi geraham kiriku akan melayang dalam waktu yang tidak akan lama lagi. Makin berkurang nikmat dan kenyamanan makan yang diberikan oleh Sang khaliq.
Dia ketuk2 tiga kali gigiku, ‘is it pain?’ tanyanya, ‘bit’ jawabku. Kemudian, si dentist berkata lagi, ‘Alright, we numb it now and let see whether we can fill (seal) it today or not. ‘Well, I will face exams in the next two weeks, do you think it’s possible for me to take any medical prescription from you to relieve the pain first. And…., possibly, I will comeback here after exams, pintaku. ‘Sure, why not’, katanya. Langsung dituliskannya resep obat yang harus kubeli di Chemist. Berselang beberapa detik, si resepsionis bilang, ’40 dollars, for that Al’. ‘Thanks’, sambil membuka dompet dan kuserahkan pecahan 50 dollar AUD dan dikembalikannya sepuluh dollars sambil tersenyum. Ku tanya, ‘where is the Chemist (apotek) around here?’, ‘Ooo it’s in civic, ten minutes walking from here’ balasnya. ‘Oo I know the one in the civic’, balasku balik dan ‘Ve a nice day’ kataku, ‘U too’ responsnya. ‘Standardlah, gak mahal-mahal kali bagi seorang student dan pekerja blue collar part time’ ucapku dalam hatiku sambil bergegas menuju Chemist’. Tapi kalau di rupiahkan mungkin terkesan relative mahal 40AUD=Rp 344.000, hanya untuk service ‘3 kali ketukan di atas gigi geraham plus durasi konsultasi yang secara total waktu tidak lebih dari 5 menit’. Aku tidak kesal, karena aku sudah dapat priscription, sementara pasien-pasien yang lain masih ngantri.
Seorang teman bercerita bahwa ada seorang sahabat yang lainnya ‘nyabut or nambal gigi’ di-charge 500 AUD. Si teman gak bilang sih, itu untuk berapa gigi. Kalau cuma satu atau dua gigi, wah benar mahal. Soalnya kalau di konversi ke Rupiah 500x8600= Rp. 4,3 jt. Nah, seperti guyonan teman yang lain, ‘eee, kalau segitu (4,3 jt) bisa buat cabut atau nambal “semua” gigimu di Indonesia Al, he he he’, cengirnya.
In ten minutes, aku sampai di Chemist dan kudapatkan obat ‘canggih’ ini kawan. Kenapa kubilang ‘canggih’, soalnya tertera ‘Nur**** is effective in the temporary relief of pain and /or inflammation associated with: headache, migraine headache, tension headache, muscular pain, cold & flu symptoms, reduce fever, period pain, dental pain, sinus pain, back pain, arthritic pain’. Awalnya, aku kaget, ni dentist main2 kek nya ngasih prescription, atau memang keliru gumamku, sambil membaca dalam hati, khasiat dari obat ini. Aku kaget, karena, pertama, begitu banyaknya jenis penyakit yang bisa di obati oleh si ‘Nur****; kedua, karena aku tidak menemukan kata-kata ‘tooth/teeth pain’, malah mataku tertuju pada ‘period pain’, hah, ini mah bukan obat buat saya, kata hatiku, ‘Yo bagarah ko dokter nampaknyo’=guyon ni dokter keknya). Kubaca ulang, ooo ternyata ada dental pain, memang gak ada tooth/teeth pain. Alhamdulillah, obat ini luar biasa. Paling lama, 20 menit setelah kuminum, sakit nya insyaAllah langsung hilang.
Saat kondisi sakit yang memuncak ini, aku minta izin off kerja. Si boss bilang ke teman kerja ku. ‘Al should come, because the pain is in his tooth not all part of the body’. ‘Eh dia gak tau sih Mas, gimana rasanya sakit gigi’ ungkapku, ‘benerrr’, kata si Mas, temanku. Kuanggap guyonan aj kata-kata si Boss, atau kuanggap saja ia lagi kangen denganku karena gak lengkap duet main foosball di waktu rehat, jika aku tidak datang. Sampai saat ini aku berdo’a supaya si Boss jangan pernah menderita sakit gigi. Namun, jika Allah menakdirkan ia dihinggapi oleh penyakit ‘pangeran/putri-nya’ penyakit ini, maka ia pun mungkin akan teringat dengan guyonannya padaku.
Tik-tok, tik-tok, tik-tok, waktu tak mau kompromi temans. Bahkan satu detikpun dia takkan berhenti, apalagi mundur, never, never and neveeeee. Beberapa hari aku hanya berusaha menghilangkan rasa sakit yang kadang datang kadang hilang. Sekali-sekali aku ke dapur cuma sekedar melihat chicken drum-stick (paha ayam), udang Thailand dan sayur mayur (mushroom, wortel, broccoli, English Spinach, Chinese Choy, yang kusimpan di kulkas. Aku hanya memandanginya saja, tidak lebih. Menyentuhnyapun tidak, apalagi memasaknya. Padahal, jika dalam kondisi normal, at least 1 kali sehari aku sempatkan untuk masak di dapur, biasanya sebelum sholat dzuhur. Karena tidak masak, palingan aku hanya melahap telur dadar, sarden, dan lalapan---gak sehat ni menu. Kalau gak, maka, menunya bisa roti tawar+madu+Susu kedelai jahe+buah2an.
Alhamdulillah, secara tertatih, essay-essay ini dapat kuselesaikan. Aku mendapat extension (tambahan waktu 3 hari karena sakit). However, sebelumnya, sempat terjadi peristiwa yang menjejal rasa optimismeku untuk graduate karena bermasah disalah satu course. Masalahnya begini, ternyata surat keterangan dentist yang menjadi syarat untuk mendapatkan extension di course tersebut, ku kirim ke email yang salah, (mestinya kukirim ke JO*******@anu.edu.au, tapi malah terkirim ke JO*******@anu.edu.edu), kesalahannya terletak di bagian terakhir seharusnya <.au> tapi kutulis <.edu.> Walaupun ini kecerobohanku, tapi tidak seratus persen kesalahanku, karena email yang salah ini (JO*******@anu.edu.edu), merupakan copy paste dari bahan presentasi power point sang Dosen di hari pertama kuliah. Kujelaskan semua runut persoalan, termasuk kelalaianku untuk mengecek ulang email dihari berikutnya yang ternyata sudah ada pemberitahuan bahwa kiriman emailku gagal. Akhirnya, sang Dosen memaklumi. Menurutku, ini murni karena logisnya penjelasanku dan kondisi fisikku yang memang sudah pathetic (mata cekung dan merah, pipi kempot, bibir pecah-pecah), bukan karena aku ‘dekat’ dengan staff2 dan dosen di departemen karena berstatus sebagai student representative bersama enam kolega lainnya.
Begitu essay-essay akhir ini terkumpul, pada saat yang sama, tumpukan kopian jurnal dan buku sudah menunggu di samping laptop. Total enam ribu kata take home exam, masing-masing 4500 kata untuk ‘Global Civil Society’ Course dan 1500 kata untuk ‘Evolution of International System’ course, harus kutuntaskan dalam waktu dan tempo yang sesingkat-singkatnya. Plus, sepuluh hari lagi sit-in exam untuk course ‘Oil, Politics, Religion, and Conflicts in Middle East’. Kesemuanya ini harus tuntas dalam waktu lebih kurang 6 hari. Padahal, dalam waktu normal, menulis essay 3000 kata saja kami biasanya diberi waktu 1 bulan lebih. Namun, karena ini ujian akhir, tentu berbeda dengan menulis essay biasa, tapi tetap harus sesuai dengan aturan penulisan essay (harus dilengkapi dengan bibliography yang standard).
Bersambung…part 2